
Aktivis – Indonesia.Co.Id | Medan Sumatera Utara – Ketika sistem kelistrikan satu pulau bisa lumpuh total dalam hitungan menit hanya karena satu titik transmisi rontok, ini adalah alarm bahaya! Ini membuktikan manajemen PLN dikelola secara amatir, tanpa visi mitigasi risiko yang baik.
Sumatera diklaim memiliki cadangan daya (reserve margin) yang melimpah dari berbagai proyek pembangkit baru. Namun, surplus di hulu tidak ada artinya jika jaringan transmisi di hilir tidak andal.
Sistem interkoneksi Sumatera terlalu bertumpu pada koridor tunggal tanpa adanya jaringan cadangan yang memadai. Ketika satu jalur utama rontok, tidak ada looping (jalur lingkar alternatif) yang siap menahan beban, sehingga sistem langsung ambruk secara keseluruhan.
Ketua DPW Fabem (Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa ) Sumatera Utara Rinno Hadinata melalui keterangan pers Pada Hari Sabtu 23/05/2026.

Di Istana Langit Kopi menegaskan kegagalan sistem yang interkoneksi sangat fatal.Managemen PT. PLN persero tidak siap dalam deteksi dini kegagalan sistem Interkoneksi antar geografis pulau.
Percepatan Redundansi Jaringan,Pembangunan Jalur Transmisi Paralel,PLN harus segera merampungkan jalur transmisi paralel (sirkit ganda yang terpisah secara geografis).
Sumbagut, Sumteng, dan Sumbagsel harus memiliki anchor power plant (pembangkit jangkar) lokal yang mampu berdiri sendiri (island mode) saat jaringan interkoneksi pulau mengalami kegagalan sistem yang sangat berdampak pada kegiatan ekonomi rakyat. Satu jam saja listrik padam ekonomi masyarakat di suatu daerah dapat terganggu dan menimbulkan kerugian.
Rinno minta Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto untuk segera memanggil Direktur utama PT. PLN.ketergantungan pada transmisi jarak jauh yang rentan terhadap gangguan cuaca dan geografis butuh solusi cerdas dan tepat sasaran.Listrik merupakan kebutuhan dasar rakyat indonesia.imolementasi dari UUD 1945 pasal 33 tutur Rinno Pria berdarah Ternate Jawa ini.
Reporter : Redaksi

