
Aktivis – Indonesia.Co.Id | Medan Sumatera Utara – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak pada stabilitas energi global. Situasi tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi di Indonesia.
posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia. Selat ini merupakan lintasan vital ekspor minyak dari negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Sejak putusan MK tahun 2012 tentang UU Migas yang menyatakan sembilan pasal inkonstitusional, sampai sekarang RUU Migas tidak pernah selesai dibahas. Karena itu perlu solusi konkret agar tata kelola migas tidak salah kelola dan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto Kedaulatan Eneegi Nasional dapat terwujud. Pada Hari Rabu 01 April 2026.
Ketua DPW Fabem (Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa) Sumatera Rinno Hadinata dan juga Kaperwil Sumut Redaksi Media aktivis-indonesia.co.id melalui keterangan Pers 01/4/2026 Di medan menegaskan bahwa Indonesia pernah berada pada masa kejayaan sebagai anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).semangat tersebut harus dihidupkan kembali dengan memperkuat peran badan usaha milik negara, khususnya Pertamina, dalam pengelolaan sektor energi nasional secara utuh.
Pertamina harus ditempatkan kembali sebagai instrumen utama negara dengan semangat Pasal 33 UUD 1945,”tutur Pria Berdarah Ternate Jawa ini.
Reporter : Redaksi

