
Jakarta, Aktivis-Indonesia. co.id — Pakar Hukum Internasional, Sutan Nasomal, menyampaikan peringatan serius terkait dampak meluas dari konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Selasa (31/03/2026)
Dalam keterangannya kepada sejumlah pemimpin redaksi media nasional dan internasional, Prof. Sutan Nasomal menilai konflik tersebut berpotensi memicu krisis kemanusiaan global, terutama dalam bentuk kelaparan massal dan krisis energi.
Pernyataan tersebut disampaikan dari Markas Pusat Partai Koalisi Rakyat Indonesia di kawasan Kalisari, Cijantung, Jakarta Timur, pada Senin (30/3/2026).
Menurutnya, eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia berisiko memperpanjang durasi perang. Israel disebut didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya, sementara Iran memperoleh dukungan dari Rusia serta mitra strategis lainnya.
“Konflik ini berpotensi berlangsung hingga enam bulan bahkan satu tahun. Dampaknya adalah krisis pangan dan energi global yang tidak terhindarkan,” ujar Prof. Nasomal.
Ia memperkirakan lonjakan harga dan kelangkaan pasokan pangan serta energi dapat berdampak luas pada berbagai negara, dengan potensi ancaman kelaparan yang dirasakan miliaran penduduk dunia.
Lebih lanjut, ia menilai kondisi tersebut dapat memicu instabilitas sosial dan politik di berbagai wilayah. Risiko konflik lokal, meningkatnya ketidakpercayaan terhadap pemerintah, hingga munculnya kelompok-kelompok perlawanan dinilai dapat terjadi akibat tekanan ekonomi dan krisis kebutuhan dasar.
Prof. Nasomal juga menyoroti potensi meluasnya konflik ke kawasan Timur Tengah secara keseluruhan, termasuk kemungkinan terganggunya infrastruktur energi, krisis air bersih, serta gelombang pengungsian dalam jumlah besar.
Ia turut mengkritisi peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai belum mampu menghentikan eskalasi konflik secara efektif.
“Kenaikan harga energi akibat terganggunya distribusi, termasuk potensi penutupan jalur strategis, akan membebani seluruh negara. Dalam banyak kasus, pendapatan masyarakat tidak lagi sebanding dengan kebutuhan hidup,” tambahnya.
Dalam konteks Indonesia, Prof. Nasomal menyatakan bahwa konflik ini juga menuntut kesiapsiagaan nasional. Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat kemandirian pangan, energi, serta sektor kesehatan, termasuk pengembangan alat kesehatan dan obat-obatan dalam negeri.
Ia juga mengimbau Presiden RI, Prabowo Subianto, agar mengambil langkah strategis dalam mendukung perdamaian dunia serta memperkuat posisi Indonesia dalam isu kemanusiaan global, termasuk dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pembatasan ekspor sumber daya alam strategis guna menjaga ketahanan nasional di tengah potensi krisis global.
“Negara yang tidak siap dan tidak mandiri akan menghadapi risiko besar jika konflik ini berlangsung panjang,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Prof. Nasomal mempertanyakan kesiapan pemerintah Indonesia dalam menghadapi potensi krisis global tersebut.
Narasumber:
Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.
Pakar Hukum Internasional
Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia
Imron R (Bocah Angon) | Tim

