
Aktivis-indonesia.co.id || Padang,-
Banjir datang tanpa aba-aba.
Longsor merenggut rumah, harta, bahkan keluarga.
Di tengah lumpur, puing, dan air mata, ada satu hal yang tak ikut hanyut: lapar dan rasa takut.
Namun di antara korban banjir dan longsor, muncul cerita yang menyakitkan:
bantuan tersendat karena urusan administrasi.
Dokumen hilang, KTP rusak, data belum cocok.
Padahal tubuh mereka masih gemetar.
Anak-anak masih menangis.
Orang tua masih mencari kabar anggota keluarga yang tertimbun tanah.
Di saat seperti itu, pertanyaannya seharusnya bukan “lengkap atau tidak?”
Tetapi “siapa yang belum tertolong?”
Ilustrasi “KTP Dulu Baru Makan?” bukan tudingan personal.
Ia adalah cermin yang memantulkan wajah sistem ketika kemanusiaan kalah oleh prosedur.
Bencana tidak menunggu verifikasi.
Kelaparan tidak menunggu stempel.
Dan nyawa manusia tidak bisa ditunda oleh tabel dan formulir.
Banjir dan longsor mengingatkan kita semua:
negara hadir bukan hanya lewat aturan,
tetapi lewat keberanian untuk memihak manusia terlebih dahulu.
Karena di tengah bencana,
yang paling penting bukan data kependudukan
melainkan denyut kehidupan yang masih bertahan.

