
Aktivis – Indonesia.Co.Id. | Kutai Timur Kalimantan Timur – Perayaan Natal di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Betel Jalan Kabo, Selasa malam (9/12), bukan sekadar ritual tahunan. Di tengah kota yang terus tumbuh dan kesibukan masyarakat yang makin padat, ratusan warga—sekitar 500 jemaat—memadati gedung gereja hingga kursi meluber ke halaman. Ini bukan hanya keramaian, tetapi penanda bahwa ruang pengharapan selalu dicari, terlebih ketika isu keluarga, moralitas, dan kehadiran spiritual menjadi kebutuhan mendesak masyarakat urban Sangatta.
Perayaan dimulai tepat pukul 19.00 WITA, sederhana namun penuh pesan kuat. Penyalaan lilin dilakukan berurutan oleh para pelayan Tuhan:
Pdt. Paul S.Th. selaku Gembala Jemaat,
Pdt. Petrik S.Th., M.Pd. sebagai Bimas Kristen,
Majelis Jemaat,
Panitia Natal yang diketuai Ibu Isba,
Perwakilan jemaat GBI.
Simbol cahayanya jelas: di tengah kegelisahan sosial, keluarga tetap membutuhkan terang—dan gereja ingin menyampaikan itu secara jujur, tanpa basa-basi.
Kehangatan Pujian, di Tengah Realitas yang Tak Selalu Manis
Vokal grup dari jemaat, panitia, serta undangan lintas gereja GSI menambah warna acara. Bahkan, rombongan dari GSI Samarinda juga hadir, menunjukkan bahwa jejaring antar-gereja terus terbangun meski koordinasinya selama ini masih sering berjalan sporadis. Namun malam itu, harmoni terdengar begitu utuh.

Khotbah yang Menyentil Realitas Keluarga
Membawakan renungan, Pdt. Petrik S.Th., M.Pd. mengangkat tema “Allah Datang Menyelamatkan Keluarga”—tema yang terasa relevan di tengah meningkatnya persoalan rumah tangga, ekonomi, dan relasi sosial.
Ia menekankan makna kelahiran Yesus sebagai Firman yang menjadi manusia, bukan sekadar cerita Natal yang diulang setiap tahun.
“Tuhan hadir bukan hanya di gereja, tetapi di rumah tangga kita. Ketika keluarga retak, ketika hubungan renggang, kehadiran-Nya menghidupkan kembali,” tegasnya.
Ajakan yang diulang-ulang untuk menjadi pelaku Firman seolah ingin mengetuk jemaat untuk keluar dari pola ibadah seremonial. Khotbahnya ditutup dengan pengingat lewat lagu para pelayan Tuhan: “Kerja Buat Tuhan Selalu Manise.” Pesan yang manis, tapi menuntut kerja keras nyata.
Tamu Lintas Lembaga Hadir, Walau Koordinasi Sosial Gereja Masih Perlu Diperkuat
Sejumlah tokoh hadir mewakili pemerintah dan organisasi masyarakat. Dari lintas gereja di Sangatta pun terlihat hadir cukup kuat, menandakan masih adanya semangat kolaborasi antarumat.
Turut hadir pula Wakil LEMTARI, DR. Cand. Matius Padondan, S.Th., M.Pd., C.TM., yang memberi apresiasi atas terselenggaranya ibadah besar ini. Namun kehadiran lintas lembaga ini sekaligus mengingatkan bahwa koordinasi gereja–masyarakat–pemerintah masih sering bersifat seremonial. Natal malam ini memperlihatkan potensi besar untuk hubungan yang lebih substantif.

Penutup: Rapat, Sederhana, tetapi Bermakna
Setelah sambutan panitia dan Gembala Jemaat, ibadah ditutup dengan pembagian doorprize dan ramah tamah. Hal sederhana yang memperlihatkan bahwa gereja bukan hanya ruang ibadah, melainkan ruang perjumpaan—ruang di mana keluarga, masyarakat, dan harapan bertemu.
Perayaan Natal di GBI Betel Jalan Kabo malam itu mungkin tidak mewah, tetapi justru di situlah kekuatannya: lugas, apa adanya, hangat, dan mengingatkan bahwa keluarga—sekecil apa pun lingkupnya—masih menjadi pusat dari kehadiran Tuhan.
Reporter : Redaksi

