
Aktivis – Indonessia.Co.Id. | Kalimantan Timur – Sekretariat FKUB Kutai Timur siang itu kedatangan tamu penting: Tim Polda. Suasananya hangat, tapi tetap berwibawa—persis seperti pertemuan yang tidak sekadar seremonial, tetapi memperlihatkan bahwa kerukunan adalah pekerjaan kolektif. Pada Hari Senin 24 /11/ 2025
Pembukaan dilakukan lugas oleh Bapak Parmin, langsung menuju inti acara. Disambung sambutan tuan rumah oleh Wakil Ketua FKUB, Mujahidul Wahton, M.Pd, yang menegaskan bahwa FKUB adalah wadah bersama bagi keberagaman, bukan hanya dalam struktur, tetapi dalam praktik keseharian.
Lalu tampil Ketua FKUB Kutai Timur, H. Ismaun Sirma. Dengan suara yang tenang namun tegas, beliau menguraikan bahwa pengurus FKUB lengkap mewakili seluruh unsur agama, bahkan telah melakukan audiensi ke tingkat provinsi, pusat, dan berkunjung ke Dirjen Bimas Kristen.
Pesannya jelas : kerukunan bukan hanya dijaga, tetapi diusahakan setiap hari. Pemerintah daerah pun disebut memberikan dukungan operasional yang memadai—sebuah bukti bahwa Kutai Timur tidak main-main dalam menjaga kondusivitas keagamaan.
”Ditambahkan pula bahwa FKUB kini hadir di seluruh kecamatan, memastikan kerja kerukunan menjangkau hingga akar rumput.”
Saat giliran Tim Polda menyampaikan apresiasi sebagai juru bicara, Sebut saja PEMBINTA TK. I. SETUR, S.H dan KOPOL Rr. Kanti Puji Lestari, poin yang diangkat tak kalah penting :
Sinergi FKUB, Polri, dan seluruh unsur masyarakat telah menjadi tembok kuat dalam menghadapi ancaman radikalisme online.
Disebutkan, 110 akun telah direkrut sistem radikal digital — angka yang menjadi peringatan keras bahwa dunia maya pun membutuhkan kewaspadaan bersama.
Isu berikutnya menyeruak: bullying, kondisi yang semakin marak di lingkungan sekolah dan merembes hingga ruang digital.

Ditegaskan pula kehati-hatian orang tua terhadap penggunaan gawai oleh anak-anak. Konten negatif semakin mudah diakses, dan faktanya, ada siswa SMP hingga SMA yang terseret hingga menjual diri. Sebuah realitas pahit yang menuntut penguatan bimbingan moral dan keteladanan di rumah.
Tak berhenti di situ, peringatan soal penculikan anak juga kembali disuarakan, menegaskan pentingnya kewaspadaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian muncul data yang tak kalah mengejutkan:
75% penghuni lapas adalah kasus narkotika.
Sebuah angka yang menggetarkan, yang menunjukkan bahwa narkoba bukan lagi ancaman besar — tetapi ancaman yang sudah berada di depan mata. Karena itu, upaya pencegahan harus menjangkau pelosok-pelosok desa, tidak boleh hanya berhenti di kota.
Sebagai langkah nyata, Polres Kutai Timur membuka layanan 110, sebuah wahana pengaduan yang dapat diakses masyarakat untuk melapor cepat, akurat, dan langsung ditindaklanjuti.
Menutup pertemuan, satu harapan ditegakkan bersama : IKN harus berjalan sesuai program nasional, dan Kutai Timur tetap berdiri sebagai contoh daerah yang menjaga kerukunan bukan dengan slogan—tetapi dengan kerja nyata, sinergi, dan tindakan yang terukur.
”Singkat, padat, tegas—begitulah gaya Karni Ilyas menggambarkan pertemuan hari itu.
dan kerukunan, sekali lagi, menjadi berita baik yang wajib terus kita perjuangkan”.
Kegiatan sosialisasi ini kami dari Tim Media Aktivis Indonesia sangat mendukung,karena kegiatn ini sangat di butuhkan masyarak untuk membentuk karakter masa depan,terutama buat anak- anak yang berada di Kalimantan Timur.
Reporter : Muslimin

