
Aktivis-Indonesia,Jakarta,-
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menegaskan kembali pentingnya silaturahim dan kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi sosial bangsa Indonesia. Pesan tersebut disampaikan dalam pertemuan di ruang sekretariat FKUB, Jakarta, yang dihadiri oleh Ketua FKUB Pusat, Dr. Moh. Abidin Abdusomad, M.Pd, bersama para pengurus.Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh makna.
Dalam kesempatan itu, Dr. Abidin Abdusomad akademisi dan pendiri Pesantren Huffadz di Tangerang Selatan menekankan bahwa jabatan hanyalah amanah yang datang dan pergi, sedangkan silaturahim harus dijaga tanpa batas waktu.
“Silaturahim adalah inti dari kebersamaan. Jabatan boleh berganti, tapi persaudaraan harus tetap terjalin,” ujar Dr. Abidin.Pertemuan tersebut juga membahas sejumlah persoalan aktual, termasuk fenomena sosial terkait tanah wakaf dari calon jamaah haji yang kini sebagian diklaim kembali oleh ahli waris.
Fenomena ini dinilai sebagai refleksi perlunya penguatan kembali nilai keikhlasan dalam beragama dan berwakaf.Dalam dialog yang dipandu Sekretaris FKUB, Paulus, lahir empat butir pemikiran utama yang menjadi arah kerja FKUB ke depan:
1. Kerukunan umat beragama sebagai landasan sosial yang memperkuat kehidupan berbangsa.
2. Cinta pada bumi dan tanah air (eko-teologi), karena menjaga alam merupakan bagian dari iman.
3. Kelahiran yang berdampak, yakni menghadirkan generasi yang membawa manfaat bagi masyarakat.
4. Digitalisasi layanan dan dialog terbuka, agar nilai-nilai agama dapat hadir di ruang digital secara inklusif dan menyejukkan.Mengutip kisah sejarah, Dr. Abidin juga mengingatkan kembali pesan Presiden Soekarno ketika menjawab pertanyaan seorang pemimpin Yugoslavia tentang ideologi Indonesia. Dengan tegas, Bung Karno menjawab:
“Pancasila.”Jawaban itu, menurut Dr. Abidin, masih relevan sebagai panduan moral dan spiritual dalam merawat keberagaman bangsa.Melalui forum tersebut, FKUB menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog lintas iman, memperkuat semangat toleransi, dan menjaga nilai kemanusiaan di tengah tantangan zaman.
“Kerukunan bukan hanya slogan, tapi napas kehidupan berbangsa. Dari ruang kecil inilah, kita belajar mencintai tanah air dan sesama manusia,” tutup Dr. Abidin.

