
Pandeglang, Banten || aktivis-indonesia.co.id—Amsah (64), seorang janda lanjut usia, hingga kini masih menjalani kehidupan seorang diri di rumah sederhana yang telah puluhan tahun ditempatinya(07/01/25).
Dalam kondisi usia senja dan keterbatasan fisik, Nenek Amsah bertahan hidup dengan bertani secara sederhana dan sesekali berjualan gemblong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Kehidupan Nenek Amsah kerap memunculkan pertanyaan dari masyarakat sekitar mengenai keberadaan anak-anaknya.
Diketahui, anak-anaknya telah berkeluarga dan menjalani kehidupan masing-masing. Dua anak laki-lakinya merantau ke luar daerah, namun kondisi ekonomi mereka juga sedang terpuruk.
Untuk pulang menjenguk orang tua pun kerap terkendala biaya transportasi.Saat ini, Nenek Amsah tinggal di Kampung Kaduseeng, RT 006/003, Desa Talagasari, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Dengan kondisi sebagai lansia jompo yang hidup sebatang kara dan berpenghasilan tidak menentu, Nenek Amsah seharusnya menjadi salah satu penerima manfaat program bantuan sosial pemerintah.
Namun sangat disayangkan, hingga saat ini Nenek Amsah belum terdata dan belum menerima bantuan sosial apa pun, baik Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan khusus lansia, maupun bantuan sembako.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait akurasi pendataan dan pengawasan sosial di tingkat pemerintahan setempat.
Kisah Nenek Amsah menjadi potret nyata masih adanya warga lansia yang hidup dalam keterbatasan dan luput dari perhatian negara.
Diharapkan pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas terkait dapat segera melakukan verifikasi lapangan dan memastikan hak-hak sosial lansia terpenuhi secara adil dan tepat sasaran.
Rilisan ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian sosial serta dorongan agar tidak ada lagi warga lanjut usia yang hidup dalam kesunyian dan kesulitan tanpa uluran tangan pemerintah.
(*Ziqro)

