
Aktivis-indonesia.co.id ||Padang, —
Potensi banjir di Kota Padang menunjukkan kecenderungan meningkat,Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor geografis, curah hujan tinggi, serta persoalan tata ruang dan infrastruktur perkotaan.
Secara geografis, Kota Padang berada di wilayah cekungan yang menjadi hilir aliran air dari kawasan Bukit Barisan menuju pesisir Samudera Hindia ,Saat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, limpasan air dari kawasan perbukitan cepat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan permukiman warga.Padang juga termasuk daerah dengan curah hujan tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola hujan cenderung semakin ekstrem akibat perubahan iklim, ditandai dengan hujan berdurasi singkat namun berintensitas tinggi, Kondisi ini menyebabkan sistem drainase perkotaan kerap tidak mampu menampung debit air secara optimal.
Dari sisi tata kelola lingkungan, berkurangnya kawasan resapan air akibat alih fungsi lahan, penyempitan dan pendangkalan sungai, serta sedimentasi memperlemah kapasitas sungai dan saluran air, Selain itu, sistem drainase di sejumlah kawasan belum terintegrasi dengan baik dan mengalami pendangkalan akibat minimnya perawatan rutin.
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah persoalan sampah yang menyumbat saluran air, sehingga mempercepat terjadinya genangan dan banjir, bahkan pada curah hujan yang tidak berlangsung lama.
Menanggapi kondisi tersebut, Humas Aliansi Indonesia, Ziqro Fernando,C.Par, menyatakan bahwa persoalan banjir di Kota Padang harus dipandang sebagai masalah struktural(15/12/25).
“Banjir di Padang tidak bisa lagi dianggap kejadian rutin tahunan, Ini adalah peringatan serius bahwa tata ruang, pengelolaan lingkungan, dan sistem drainase kita belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan iklim dan tekanan pembangunan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa upaya penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Yang dibutuhkan bukan hanya penanganan darurat saat banjir terjadi, tetapi langkah pencegahan jangka panjang yang konsisten, mulai dari perlindungan kawasan resapan air hingga pembenahan sistem drainase dan sungai,” tambahnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko banjir di Kota Padang memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan agar dampaknya tidak terus berulang dan semakin meluas.

