
Maafkan kami…Kata itu mungkin sederhana, tetapi sungguh berat kami ucapkan kali ini. Kepada saudara-saudara kami di Aceh dan Sumatra Utara yang sedang ditimpa bencana, izinkan kami menyampaikan sesuatu dari lubuk hati terdalam—dari tanah yang sedang basah oleh air mata dan tubuh yang masih gemetar menahan duka.Setiap kali bencana menimpa daerah lain, Sumatra Barat selalu ingin menjadi yang terdepan.
Kami tidak pernah berpikir dua kali. Rendang berton-ton kami masak, kami kirim, kami antar dengan cinta. Karena bagi kami, saudara bukan sekadar kata. Saudara adalah jiwa yang harus saling jaga ketika badai datang. Dan rendang itu selalu menjadi tanda bahwa “Kami hadir. Kami memeluk kalian. Kalian tidak sendirian.”Tetapi hari ini…
Dengan hati yang patah, dengan suara yang serak oleh tangis, kami harus berkata:Maafkan kami, saudara.Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, kami belum mampu mengirimkan rendang seperti biasanya.Bukan karena hilangnya kasih.Bukan karena surutnya kepedulian.Bukan karena kami lupa bagaimana rasanya kehilangan.
Justru karena kami sedang berada di titik terlemah kami.Tanah kami sedang menangis.Gunung yang sabar itu akhirnya pecah juga.Air bah datang seperti tak lagi mengenal batas.Rumah-rumah kami hanyut dalam hitungan detik.
Anak-anak kami terpisah dari dekapan orang tuanya.Para ibu memeluk baju terakhir milik putra mereka yang tak sempat diselamatkan.Para ayah berdiri kaku memandangi ladang tempat mereka menggantungkan hidup—sekarang rata oleh lumpur.Saudara-saudara kami banyak yang berpulang.Yang tersisa berjuang di pengungsian, menggigil oleh dingin, tercekik oleh kehilangan.
Kali ini, kami tidak kuat berdiri.Kami sedang berusaha menyeka air mata sambil bangkit pelan-pelan.Dan di saat kami terpukul, kami melihat berita Aceh dan Sumatra Utara mengalami duka yang sama—banjir, longsor, rumah-rumah terendam, dan keluarga-keluarga yang berduka.
Hati kami runtuh kembali.Kami ingin membantu seperti dulu, seperti selalu… tapi tangan kami sedang gemetar.Namun satu hal yang pasti: Doa kami tidak pernah putus.Setiap sujud kami membawa nama kalian.Setiap tetes air mata kami membawa harapan agar Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat… kita semua… diberi kekuatan untuk berdiri kembali.Inilah saatnya kita saling menggenggam, meski tangan sama-sama luka.Inilah saatnya Indonesia menengok ke Sumatra—bukan hanya sebagai pulau yang indah, tetapi sebagai tanah yang sedang berjuang untuk bangkit.
Kami mungkin tidak bisa mengirim rendang hari ini,tapi kami memohon dengan segala kerendahan hati:Bantulah saudara-saudara kami yang sedang berjuang di Sumatra Barat.Bantulah mereka yang kehilangan rumah.
Bantulah ibu-ibu yang sudah tiga malam tidak memejamkan mata demi menjaga anak-anaknya di tenda pengungsian.Bantulah para lansia yang kehilangan obat, pakaian, dan tempat berteduh.Bantulah keluarga-keluarga yang kehilangan pencarian hidup dalam sekejap.Setiap seribu rupiah berarti harapan.Setiap donasi adalah pelukan.
Setiap kepedulian adalah nyala kecil yang membantu kami melihat jalan keluar dari kegelapan ini.Mari kita buktikan bahwa duka tidak bisa memisahkan kita.Bencana ini tidak membuat kita menjauh, tetapi justru mendekat.Karena pada akhirnya, kita bukan hanya satu bangsa.
Kita adalah satu tubuh yang jika satu bagian terluka, seluruhnya ikut merasakan.Maafkan kami, saudara-saudara di Aceh dan Sumatra Utara.Kami sedang terluka.Kami sedang berjuang.Dan kami membutuhkan kalian, seperti dulu kalian membutuhkan kami.Semoga Allah menguatkan kita semua.Semoga Sumatra kembali berdiri.Semoga Indonesia kembali pulih, bersama-sama.

