
Aktivis – Indonesia.Co.Id. | Kalimantan Timur – Ada satu hal yang patut dicatat dari sebuah acara yang berlangsung di balik pagar tinggi Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur pagi itu: bahwa Pencegahan Stunting bukan hanya urusan gizi, dan Moderasi Beragama bukan hanya soal toleransi.
Keduanya, seperti yang terungkap dalam forum pertama Perlita Kalimantan Timur ini, justru saling menjelaskan kebuntuan kita selama ini.
Acara yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan dinamika yang lebih kompleks dari sekadar daftar sambutan.
Pembukaan: Ketegangan Sunyi Sebelum Fakta Terungkap
Acara dimulai pada 09.15 WITA. Panitia memberi laporan singkat. Terlihat rapi, tapi di balik itu ada kegelisahan tersamar—bahwa angka stunting Kutai Timur masih berada di zona yang mengkhawatirkan, sementara isu intoleransi dan gesekan antar-komunitas terus membayangi.
Keduanya menjadi latar yang membuat forum ini terasa lebih penting dari yang tertulis di undangan.
Ketua FKUB Kutim H. Ismaun Sirma: Menyentil Tanpa Menyebut Nama
Dalam sambutannya, H. Ismaun Sirma berbicara tenang, namun pesannya mengarah tepat ke inti masalah:
bahwa moderasi bukan hanya jargon kementerian, tapi disiplin moral yang seharusnya mendarah daging.
Ia tidak menyebut pihak mana pun, tapi siapa pun yang mengamati dinamika kerukunan di Kutim tahu:
pesan itu ditujukan kepada kelompok-kelompok yang ingin menunggangi perbedaan demi kepentingan politik menjelang 2026.
Perlita Kutim Kastina S.E: Mengangkat Peran Perempuan, Menyentuh Titik Sensitif
Ketua Perlita Kutim, Kastina S.E, menyampaikan betapa perempuan harus menjadi garda depan pencegahan stunting.
Namun yang menarik bukan hanya itu.
Ia menyinggung minimnya perhatian beberapa pihak terhadap program gizi keluarga.
Pernyataan itu terdengar halus, tetapi sesungguhnya merupakan kritik terhadap program-program daerah yang sering kali lebih kuat pencitraan daripada dampaknya.
Dr. Hj Siti Aminah, M.Pd – Moderasi Beragama dan Temuan “Pisang Rutai”
Saat narasumber utama ini berbicara, suasana ruangan berubah.
Dengan data dan penelitian di tangan, Dr. Hj Siti Aminah memaparkan temuan bahwa pisang lokal jenis Rutai memiliki potensi sangat besar dalam pemenuhan gizi keluarga.
Namun ada sesuatu yang jauh lebih tajam dalam narasinya:
“Stunting bukan hanya karena kurang gizi.
Tetapi juga karena kita gagal memberi ruang aman bagi masyarakat untuk bekerja sama lintas keyakinan.”
Sebuah pernyataan yang terdengar seperti kritik akademik, tetapi sekaligus sindiran bagi pihak-pihak yang masih memelihara prasangka dan dominasi tafsir tunggal dalam kehidupan beragama.
Dr. Dra. Onja VT – Data yang Mengusik Kesadaran
Onja VT mengungkapkan fakta-fakta yang selama ini enggan dibicarakan secara terbuka:
bahwa sebagian kasus stunting terjadi bukan karena kemiskinan saja, tetapi karena keterputusan informasi gizi, rendahnya kualitas literasi kesehatan, dan pola hidup yang tidak seimbang.
Dalam paparannya, ia menyinggung bahwa sebagian masyarakat sebenarnya memiliki sumber pangan sehat di pekarangan—termasuk pisang Rutai—tetapi tidak pernah dibimbing untuk memanfaatkannya secara ilmiah.

Pernyataan itu mengarah pada satu kritik: program pemerintah sering berhenti pada spanduk, bukan pendampingan.
Ahmad Barkati, S.H., M.H – Kemenag Kutim: Kalimat Pembuka yang Menggugah
Pejabat Kemenag Kutim sekaligus pembuka acara itu meninggalkan satu pesan yang terasa sebagai tamparan halus:
“Kerukunan tidak ada artinya bila anak-anak kita tetap gagal tumbuh.”
Di luar teks sambutannya, ini adalah seruan agar lembaga-lembaga pemerintah berhenti bekerja sektoral.
Karena persoalan besar seperti stunting tidak akan selesai bila kementerian, dinas kesehatan, dan komunitas agama jalan sendiri-sendiri.
Sayap FKUB: Perlita, Pelita, dan Desa Kerukunan – Tetapi Sebelah Mana yang Bekerja?
Menarik bahwa beberapa pihak menyebut sayap FKUB: Perlita, Pelita, Desa Kerukunan Umat Beragama.
Namun hingga hari ini, belum semua daerah benar-benar memaksimalkan peran mereka.
Acara hari ini menunjukkan bahwa Perlita sudah mulai bergerak, tetapi masih menyisakan pertanyaan:
Apakah Pelita akan mengikuti langkah yang sama?
Mampukah Desa Kerukunan menjadi motor nyata, bukan sekadar label administratif?
Dan yang paling penting: apakah semua ini akan dilanjutkan setelah hari ini?
Penutup: Acara Berakhir, PR Besar Baru Dimulai
11.30 WITA acara ditutup. Foto bersama diambil. Senyum merekah.
Tapi fakta tetap fakta:
angka stunting masih tinggi dan intoleransi masih mengintai.
Pertanyaannya bukan lagi apakah program ini penting, tetapi:
apakah semua pihak punya keberanian menjaga komitmen ini setelah mikrofon dimatikan?
Karena seperti kata seseorang yang pernah mengingatkan kita:
“Masalah terbesar bangsa ini bukan kurangnya program…
tapi kurangnya konsistensi.”
Dan hari ini, di Sangatta, kita melihat awal yang baik—
namun baru langkah pertama dari perjalanan panjang.

