
Padang ||aktivis-indonesia.co.id,-
Di tengah bencana longsor yang melanda sebuah kawasan permukiman pada Jumat malam, sebuah kisah memilukan sekaligus menggetarkan nurani muncul dari balik timbunan tanah.
Tim penyelamat menemukan seorang ibu dan anaknya dalam kondisi tak bernyawa, namun masih dalam posisi berpelukan erat seolah olah sang ibu menggunakan detik-detik terakhir hidupnya untuk melindungi buah hatinya.
Kesaksian para relawan di lokasi menyebutkan, posisi keduanya menunjukkan bahwa sang ibu sadar akan bahaya yang datang, namun nalurinya bukan untuk menyelamatkan diri, melainkan memastikan anaknya tetap berada dalam dekapan terakhir yang penuh kasih.
Pelukan itu bertahan bahkan setelah tanah runtuh menutup kawasan tersebut.Tak ada teriakan yang terdengar dari pasangan itu, hanya sunyi yang menyayat ketika tubuh mereka ditemukan. Tubuh sang anak bersandar pada dada ibunya , tempat di mana ia dulu pertama kali mengenal kehidupan.
Keterbatasan waktu membuat mereka tak sempat melarikan diri, namun mereka sempat saling menggenggam, saling menjaga, saling berpamitan dalam cara yang paling manusiawi.Dalam tragedi yang merenggut nyawa dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga serta masyarakat setempat, kisah ibu dan anak ini menjadi simbol kekuatan cinta.
Sebuah pelukan terakhir yang tidak lepas bahkan oleh maut, yang mengingatkan kita bahwa kasih seorang ibu tidak pernah padam, tidak pernah kalah, bahkan ketika alam mengamuk.Kini, tanah menjadi peristirahatan terakhir bagi keduanya, sementara langit dipenuhi doa dan duka.
Mereka pergi, namun cerita mereka tertinggal untuk mengajarkan pada kita semua bahwa di tengah bencana, kemanusiaan selalu menemukan cara untuk bersinar dalam pelukan, dalam keteguhan, dalam cinta yang abadi.Semoga keduanya mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan menghadapi musibah ini.
(*Penulis : ZIQRO)

