
aktivis-indonesia.co.id || Padang,-
Provinsi Sumatera Barat mulai menunjukkan perkembangan positif setelah diguncang bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor sejak 21 November 2025. Memasuki tiga hari penanganan intensif, pemerintah pusat dan daerah menyatakan bahwa wilayah terdampak kini beralih ke fase pemulihan, dengan fokus pada pembukaan akses jalan, perbaikan infrastruktur vital, dan percepatan distribusi bantuan kepada puluhan ribu pengungsi.
Bencana besar ini dipicu oleh hujan ekstrem berkepanjangan yang diperkuat keberadaan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Pada saat yang sama, kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat deforestasi memperburuk dampak bencana, memicu longsor dan banjir bandang di banyak titik. Delapan kabupaten/kota terdampak berat, yaitu Kabupaten Agam, Solok, Pesisir Selatan, Tanah Datar, Padang, Padang Panjang, Pariaman, dan Bukittinggi.
Korban dan Pengungsi Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 November 2025:
129 orang meninggal dunia, 118 orang masih dalam pencarian, 16 orang luka-luka,77.918 jiwa mengungsi ke lebih dari 200 titik pengungsianKabupaten Agam menjadi daerah dengan dampak terberat, dengan 87 korban meninggal dan 76 orang hilang.
Penanganan dan Koordinasi Penanganan darurat dipimpin BNPB yang bekerja bersama Pemerintah Provinsi Sumbar, TNI, Polri, Basarnas, Kementerian PUPR, Kementerian ESDM, dan berbagai instansi lainnya. Sejak status tanggap darurat diberlakukan, ribuan personel gabungan telah dikerahkan untuk evakuasi, pencarian korban, dan normalisasi akses.
Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan bahwa kondisi penanganan di Sumbar per 1 Desember menunjukkan progres signifikan. Cuaca mulai membaik, jalur logistik telah dibuka di beberapa titik, dan operasi modifikasi cuaca (OMC) masih dilakukan untuk mencegah hujan ekstrem susulan.
Kerusakan Infrastruktur Kerusakan terkonsentrasi pada 16 ruas jalan provinsi dengan total 54 titik terdampak,mulai dari badan jalan amblas, bahu jalan terban, hingga jembatan rusak berat.
Ruas Mangopoh–Padang Luar, Teluk Bayur–Nipah–Purus, Batas Payakumbuh–Suliki–Koto Tinggi, dan Lubuak Basung–Sungai Limau menjadi titik paling kritis. Beberapa jalur nasional di Padang Panjang dan Sicincin sempat terputus.
Arah PemulihanPemerintah kini memfokuskan langkah pada:
1. Pemulihan Infrastruktur – Kementerian PUPR dan Bina Marga Sumbar mengoperasikan alat berat untuk membuka akses utama.
2. Distribusi Bantuan Logistik – BNPB menyalurkan sembako, tenda, family kit, selimut, serta bantuan dari berbagai pemerintah daerah, termasuk bantuan kemanusiaan senilai Rp2,5 miliar dari Provinsi Jawa Timur.
3. Pemulihan Energi dan Layanan Dasar – Kementerian ESDM mengirim tiang listrik menggunakan pesawat Hercules demi pemulihan pasokan listrik.
4. Dukungan Anggaran – DPRD Sumbar mendorong percepatan penggunaan dana Biaya Tidak Terduga (BTT) APBD untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga terdampak.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada karena Sumbar masih berada pada puncak musim hujan hingga Desember, meskipun kondisi cuaca secara umum mulai membaik.
Dengan percepatan penanganan yang terkoordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, proses pemulihan di Sumatera Barat diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, aman, dan terukur, sehingga kehidupan warga yang terdampak dapat kembali pulih dalam waktu dekat.(*Ziqro)

