
Aktivis-indonesia.co.id || Padang ,-
Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat kembali menyingkap kondisi kerentanan masyarakat kecil yang tinggal di kawasan rawan bencana. Banyak warga terdampak merupakan keluarga berpenghasilan rendah yang menempati rumah-rumah sederhana berbahan papan, tanpa konstruksi beton yang memadai.Kondisi hunian yang rapuh membuat mereka menjadi kelompok paling rentan saat banjir besar dan galodo menerjang.
Tidak sedikit rumah warga yang hanyut ataupun mengalami kerusakan berat, sementara harta benda dan peralatan rumah tangga tidak sempat diselamatkan.Pegiat agroindustri dan pemerhati lingkungan, Adli (Guru Agroindustri), menegaskan bahwa kerusakan lingkungan di hulu menjadi faktor yang memperparah bencana.
Aktivitas penebangan kayu ilegal dan tambang emas ilegal disebut turut merusak kawasan hutan serta mengurangi kemampuan alam menahan air.“Mari hentikan penebangan kayu ilegal dan tambang emas ilegal. Mari bangun kembali hutan kita, sumber kehidupan dan hulu ekonomi agro,” ujarnya dalam seruan solidaritas bagi masyarakat yang terdampak.
Seruan ini kembali mengingatkan pentingnya upaya pemulihan ekosistem hutan, pengawasan aktivitas ilegal, serta pembangunan infrastruktur permukiman yang lebih tahan bencana, terutama di daerah rawan banjir bandang.
Bantuan logistik, air bersih, serta kebutuhan darurat lainnya terus dibutuhkan oleh warga yang saat ini bertahan di posko-posko pengungsian. Pemerintah daerah dan berbagai elemen masyarakat diharapkan memperkuat kolaborasi untuk mempercepat pemulihan dan mitigasi ke depan.

